Unik

Ssst…! Tradisi Mudik Sudah Ada Sejak Zaman Pra Sejarah

MUDIK sebuah tradisi yang selalu dikaitkan erat dengan momentum menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran. Tetapi, tahukah Anda karena sebenarnya tradisi mudik sudah ada sejak zaman sebelum kerajaan Majapahit berdiri.

Ungkapan mudik disebut-sebut sebagai aktifitas pergerakan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain yang biasanya demi untuk merayakan sesuatu dengan sanak famili. Beberapa ahli sejarah mentafsirkan jika tradisi mudik sudah ada sejak zaman pra sejarah.

Saat itu,Namun,  sistem kehidupan manusia yang menjalani aktivitas berburu dan mengembara, pada bulan-bulan baik, biasanya saat purnama, kelompok-kelompok pengembara ini kembali ke daerah asal mereka untuk melakukan ritual keagamaan. Membersihkan tempat ritual kepercayaan dan berkumpul bersama keluarga adalah aktifitas yang dijalani sebelum emreka kembali mengembara.

Ketika masuk zaman Kerajaan Majapahit, tradisi mudik masih dipertahankan. Dan ini berlaku bagi pegawai kerajaan yang pada waktu tertentu kembali ke daerah tempat keluarga mereka berasal. Namun ketika Islam masuk Indonesia, tradisi mudik ini mulai dikaitkan dengan Lebaran karena aktifitas mudik biasanya dilakukan saat mau datang Hari Raya Idul Fitri.

Pada masa Hindia Belanda, istilah mudik begitu popular di Batavia. Kata “mudik” dikaitkan dengan arti “menuju udik”. Udik disini adalah kampung halaman. Penggunaan kata udik diawali karena Jakarta saat itu begitu banyak didatangi oleh orang-orang dari wilayah lain di Pulau Jawa yang menetap di Ibukota demi berdagang. Namun, ketika akan datang Hari Raya Idul Fitri, kaum urbanis ini akan meninggalkan Jakarta menuju kampung halamannya.

Tradisi Mudik

Nah, masyarakat Betawi sering menyebut aktifitas sebagian warga pendatang itu dengan sebutan mudik. Tradisi mudik ini makin mencuat ke permukaan manakala Batavia sudah berubah jadi Jakarta terutama saat di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977).

Kala itu Jakarta dibangun oleh Bang Ali hingga berubah menjadi Kota Metropolitan. Orang-orang udik ini melihat Jakarta sebagai mimpi masa depan bagi mereka yang kurang sukses di daerah. Karenanya berbondong-bondong mereka hijrah ke Jakarta untuk mencari penghasilan dengan berbagai cara.

Menjelang Lebaran tiba, para orang udik ini pun akan kembali ke kampung halamannya untuk menceritakan betapa sukses mereka di Jakarta. Karenanya mereka kerap membawa berbagai buah tangan, seperti uang atau barang untuk keluarga di kampung. Meskipun tak jarang dari orang udik ini yang tidak menuai sukses, tetapi mereka tetap pulang kampung dan menceritakan mimpinya tentang Ibukota.

COMMENTS